Saturday, 2 January 2021

Here I Am



2021. Di momen awal tahun baru gini, biasanya banyak orang yang akan memikirkan kembali resolusinya untuk satu tahun ke depan. Mulai dari merencanakan hal-hal seru, menyusun list perjalanan ke tempat asing, planning keuangan untuk target masa depan, atau sekedar melanjutkan catatan tahun lalu yang belum sempat terealisasi.

Aku pun begitu. 

Tapi sebelumnya, mau lihat ke belakang sebentar.

Di arsip tulisan 2020, atau bahkan lebih lama sebelum itu saat masih kuliah S1. Sebagai mahasiswa yang jiwa adventure-nya masih menggebu-gebu, aku punya keinginan lanjut ke jurusan yang nggak linier dengan ilmu agama, S2 di Eropa. Untuk mengejar passion yang mungkin kurang pas kalo dicari di negeri Timur Tengah.

Jadi setelah lulus pada 2019 lalu, udah mulai nyusun rencana untuk bisa berangkat ke sana. Awal tahunnya pulang ke Indonesia, beberapa bulan kemudian memantapkan bahasa di Pare, lanjut tes TOEFL/IELTS di Ibu kota, trus daftar kuliah ke luar negeri.

Indah, ya. Kalau emang bisa semulus itu.

Nyatanya nggak.

Aku pamit 'alatul dari Mesir di pertengahan Februari, mampir sebentar ke Saudi selama sebulan untuk umrah. Pas pertengahan maret mau bertolak ke Indonesia, pandemi sudah menggila. Aku bahkan tertahan di bandara Jeddah selama 3 hari karna penerbangan sudah dibatasi. Situasinya sangat rumit saat itu (mungkin kapan-kapan akan kutulis juga detail ceritanya).

Yups, seperti yang kita tau, Corona berhasil merusak banyak hal. Termasuk merubah 180o resolusi orang-orang yang mengira tahun ini akan diisi dengan wishlist yang tertulis… namun justru beralih ke; terpaksa isolasi diri & survive sehari-hari. 

Kita termasuk yang ‘beruntung’ belum mati.

Empat bulan dari Maret aku nggak ke mana-mana. Nggak keluar Bengkulu sama sekali. Alhamdulillah punya tabungan, uangnya kupakai untuk beli alat gambar digital, kemudian buka jasa ilustrasi. Lumayan banget untuk ngisi kekosongan dan memenuhi hasrat hobi. Jadi selama waktu berbulan-bulan pasca tamat tadi masih ada kegiatan, walau hanya dikerjakan di rumah.

Berita di bulan Juli, belum banyak perkembangan tentang menurunnya angka kematian sebab wabah ini. Tapi aku pun nggak bisa gitu terus-terusan ngurung diri. Nggak bisa sok idealis juga untuk maksa lanjut ke luar negeri. Jadi orang tua nyaranin untuk ambil pasca sarjana di Bengkulu ini dulu. Fuh. Bismillah, akhirnya bulan itu aku ikut ujian masuk IAIN Bengkulu, dan lulus.

Mulai bulan depannya, Agustus, aku pun ninggalin Curup, pindah ke kota. Tinggal di pondok pesantren yang jaraknya sekitar satu kilometer dari kampus. Dari awal daftar kuliah aku udah mutusin, kalo aku nggak bakal ngekos pas pindah ke kota. Banyak pertimbangan, salah satunya untuk menjaga lingkungan. Yah, aku ini tipe yang kalo nggak tertuntut keadaan, agak susah untuk bergerak. Jadi, kalau tinggal di kos, besar kemungkinan bakal jarang keluar kamar, banyakan tidurnya, atau banyakan mainnya. Haha.

Beruntung ayah ada kenalan ustadz yang punya pesantren, jadi aku bisa kuliah sambil ngajar di sana. Dan ternyata mudir itu kakak seniorku di Pondok Sakatiga. Cuma kita nggak sempat ketemu pas sekolah, karna di tahun aku masuk, beliau satu tahun sebelumnya sudah tamat.

So, here I am. Keseharianku sekarang bisa dibilang hampir full mengabdikan diri ke pesantren. Karna kuliah semester ini masih dilaksanain online, dan hanya jum'at-sabtu.

Tapi hal yang akhirnya kusyukuri sekarang, hikmah dari kejadian ini. Walau aku belum bisa meneruskan niat ke luar negeri dan hanya menetap di kota yang nggak jauh dari tempat asal, namun aku jadi bisa lebih mengenal daerah ini. Jujur, karna sejak SD sudah merantau ke luar provinsi, terutama Sumatera Selatan, pulang ke rumah hanya saat hari libur. Aku jadi lebih banyak mengenal Palembang daripada Bengkulu. Bahkan bahasa pun sering tercampur karna udah susah ngebedainnya.

Aku lebih mengenal seluk beluk daerah dan budaya Sum-Sel daripada Bengkulu. Teman-teman di Bengkulu, selain keluarga dan yang masih di Mesir, mungkin bisa dihitung jari. Karna emang sekuper itu. Aku kalo pulang jarang bergaul ke luar-luar rumah, anaknya sok introver banget emang.  

Jadi sekarang aku pun bersyukur bisa menetap lama di kota ini. Bisa lebih mengenal suasana dan dapat teman-teman baru yang sedaerah. Karna mau nggak mau, kampung halaman, tempat aku pulang ada di sini. Area dakwah yang pertama kali harus aku jelajahi pun seharusnya di sini. Kalo seluruh putra daerah yang merantau nggak pulang ke tempat asalnya, lalu dengan siapa lagi tempat itu berharap mendapat cakrawala ilmu-ilmu lain yang ada di luar. Pengetahuan dunia ini terlalu luas kalau hanya untuk disimpan sendiri tanpa disharing dengan orang dan lingkungan terdekat.

Hm. Mungkin itu dulu ceritaku di awal tahun ini.

Sebagai resolusi 2021, semoga bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi dalam segala hal. Pergaulan, keilmuannya, kematangan usia, pengalaman dsbg. Lalu kalau memang sudah tepat waktunya, semoga segera bertemu seseorang yang bisa diajak jalan beriringan untuk berjuang bersama. Haha. Aamiin..

Semoga juga, keinginan untuk menjelajah ke negeri luar ini belum pupus, tetap membara, dan bisa direalisasikan di waktu mendatang. Yaa Rabb..

.

Kalo resolusimu?


Sunday, 12 April 2020

'Alatul



Hari ini tepat dua bulan lalu meninggalkan Negeri Seribu Menara yang juga bisa kutulis sebagai negeri seribu kenangan: Mesir. Enam tahun di sana tentu bukan waktu yang sedikit. Banyak hal yang sudah dilakukan, teman-teman baru yang sudah seperti keluarga, keberhasilan melewati hal-hal luar biasa --di luar dugaan kadang-- dan momen-momen memorable di hampir setiap sudut ibu kotanya.

Walau mestinya kutulis ini di awal-awal kepulangan kemarin saat memorinya masih segar terekam. Tapi yaa better late than never, kan. Sayang kalo tentang ini nggak dituangkan di blog.

Awal 2020 dimulai dengan sesak. Membayangkan lepas dari lingkungan tempat aku tumbuh dewasa dan sudah terbiasa di sana --sungguh berat. Sebulan terakhir menjelang 'alatul  (istilah di Mesir bagi orang yang pulang dan tidak berniat kembali lagi) aku mulai lebih fokus memerhatikan jalan-jalan yang biasa kulalui beserta suasana yang ada. Gang sempit komplek Darrasah, luasnya Masjid Azhar, ramainya kendaraan selama jalan ke Hay Asyir, dinginnya bulan Januari, serunya nobar MU di kafe bawah rumah dan nyamannya tidur pagi selama musim dingin. Haha. 
Sembari itu yang selalu kupikirkan hanya "kapan lagi aku bisa menikmati hal ini". Karna bukan sebuah pertanyaan, jadi aku merasa tak perlu berlarut mencari jawabannya. Cuma doa saja yang aku panjatkan dengan lirih di saat take off pesawat Egypt Air menuju Saudi, "semoga di lain waktu punya rezeki ke negeri kinahah ini lagi".

Lalu hari Rabu, 12 Februari itu pun tiba.
Malam terakhir gagal kupakai untuk istirahat karena diluar perkiraan butuh waktu sampai subuh untuk menyelesaikan packing barang. Tapi keuntungannya aku bisa subuhan berjamaah di Masjid Azhar. Setelah shalat, di jalan pulang jadi sedikit sibuk merenung, entah berapa banyak waktu yang sudah kusia-siakan, lebih sering bersantai di rumah daripada talaqqi di ruwaq-ruwaq masjid ini.
Sebuah kesadaran yang mungkin tak bermakna lagi. 


Paginya aku pamit dengan teman-teman rumah karna harus ke Rumah Limas dulu (nama sekretariat kawan-kawan Sum-Sel) karna nanti berangkat bareng ke bandara Kairo dari sana. Yang paling berat ditinggalkan dari rumah adalah Simpus, kucing kampung yang sudah jadi anggota rumah sejak bulan puasa tahun lalu. Walau dia sering ngeselin karna suka sok-nggak-kenal kalo dipanggil saat sudah kenyang, tapi momen dia sering berdiam cari kehangatan ke atas kasurku sulit sekali dihilangkan. Jadi sebelum keluar, aku sempatkan dulu ambil foto dengannya dan dia entah ngapain  jadi ikut-ikutan nganter sampai depan pintu dengan memasang raut muka sedikit sedih. Hmm yaa mungkin dia merasa kehilangan. Kehilangan orang yang biasa beliin dia wiskas --tentunya.

Sekitar pukul dua siang aku dan teman-teman yang mau ikut nganter, berangkat dari Limas menuju bandara.

Walau sebulan terakhir jadi sedikit melow, tapi hari itu aku memutuskan sudah nggak mau terbawa suasana, aku ingin pulang dengan rasa bahagia. Tapi keinginan ini sedikit berat memang. Beberapa kawan nakal yang gelisah kenapa momen balik ini nggak ada rasa-rasa sedihnya, mulai menghasut dengan menyampaikan narasi-narasi sedih. Aku yang sudah tau trik basi ini --karna sebelumnya sering juga nganter senior/teman yang pulang-- nggak mau tergoda.

Sampai selesai foto-foto bareng di luar bandara aku masih nggak bergeming dan aku yakin nggak bakal ada dari kawan-kawan jahil ini yang merasa puas karna misi bikin-orang-nangisnya berhasil.
Tapi bahkan dengan keyakinan yang kuat sejak awal pagi hari itu pun, berujung ambyar juga di momen terakhir saat berpelukan sebelum masuk untuk check-in. Sungguh padahal aku sudah tahan-tahan sekuat tenaga, namun akhirnya mau nggak mau mengikuti hati dan menyadari "ternyata begini ya rasanya alatul". 
Dulu aku menganggap ini --secara kasar-- hanya sebuah formalitas pamitan dan edisi sedih-sedihan itu hanya part dari 'tradisi' nganter biar 'terasa' berpisahnya. Hingga aku ngerasain sendiri dan dengan berat mengakui bahwa "ini memang momen yang menyedihkan rupanya".


Untuk penutup yang baik, di akhir tulisan ini aku pengen nyampein
terima kasih banyak kepada teman-teman di Mesir yang selama ini sering aku repotkan, yang sering menemani bergadang buat saling tukar gosip pikiran, berbagi makanan padahal sama-sama lapar, juga atas kenangan pahit dan indah yang sudah bersama dilewatkan.
Mohon maaf jika banyak salah, sampai berjumpa lagi di Indonesia, semoga tetap saling menyapa --walau jauh tapi kan bisa via sosial media, hey.

Udah itu aja. Walau tulisan ini lebay, ya nggak apa-apalah. 
Toh ini blog siapa. Haha.

Depan Limas
Bandara

Wednesday, 1 January 2020

Serba-Serbi Wisuda



Sebagai mahasiswa yang jarang upload foto saat belajar --seringnya sih posting screenshot cuitan orang di Twitter-- berfoto & publish suasana wisuda adalah momen yang ditunggu. Setidaknya jadi bukti kalau selama di sini nggak cuma jalan-jalan dan sosmed-an. Lagian mana bisa juga lulus kalo nggak belajar sama sekali (walau suka langganan ngebut di injury time). Ntah deh kalo di Azhar ada yang bisa nyogok kelulusan? Haha keknya nggak ada, nggak pernah denger sama sekali. Paling yang masyhur di sini adalah "nyogok" Yang-di-Atas dengan tawasulan, ziarah makam Waliyullah, juga perbanyak shalawat dan minta didoakan --lewat status sosmed atau japrian broadcast hmm~

Hal lucu pernah terjadi. Saat aku baru pulang dari ibadah haji dua tahun lalu, salah satu teman sempat bertanya apa beneran aku selama sebulan terakhir nggak kelihatan karna pergi ke Mekkah. Sempat bingung sebentar buat mencerna pertanyaannya. Ternyata dia hanya meragukan, soalnya selama sebulan pergi haji dulu aku nggak pernah buat status atau update foto suasana haji. Owalah. Bener-bener "Aku bersosmed maka aku ada". Padahal waktu haji sering sih dokumentasiin kegiatan, cuma lebih ke disimpen pribadi aja. Buat kenangan.

Balik lagi soal wisuda. 
3 Oktober 2019 lalu aku ikut wisuda yang diadain oleh PPMI Mesir. Sempet ragu buat ikut karna --kayak yang aku ceritain di post sebelumnya-- waktu itu masih punya 2 maddah yang butuh remedi. Sedangkan pas tanggal wisuda udah ditentukan, nilai remedial kami belum juga keluar. Yang aku pikirin adalah, kalo aku daftar terus nanti nggak lulus, rasanya bakal males banget setahun ke depan bakal ditanyain rangorang "Belum lulus kok dah wisuda ya". Sedangkan kalo aku nggak daftar wisuda tahun ini dan ternyata lulus, yakali kan sayang banget nggak punya foto kelulusan. 

Akhirnya daftar, dan hal yang dikhawatirkan beneran terjadi. Di hari H pulang wisuda saja teman-teman junior udah sibuk nanya "Abis ini kakak lanjut S2 mana", "Ada rencana pulang alatul belum nih" dll. yang cuma bisa aku jawab "Hehe. Belum tau nih. Masih perlu istikharah dulu" dsbg. Tapi ya sebenernya itu pertanyaan yang wajar, karna mereka juga nggak perlu dan untuk apa juga tau kalo aku belum bener-bener lulus dan masih nyisain dua matkul. Yang diketahui awam kan dengan seseorang-ikut-wisuda berarti ya dianggap sudah lulus, gitu. Dan semenjak hari itu hingga turun nilai aku merasa  sedang membohongi dunia. Bahkan nyeseknya ada teman yang tau aku wisuda dan juga tau masih nyisa dua, terang-terangan ngomong "Halah daftar wisuda, padahal belum lulus juga". Haha sungguh ringan sekali pernyataan tersebut keluar.
Syukurnya ini cuma soal penundaan informasi saja. Aku lulus dan tidak jadi melewati satu tahun ke depan dengan omongan berdengung ala netizen.

Ini dari tadi curhat nggak jelas. Padahal rencana yang mau ditulis bukan soal ini.
Lupakan. Aslinya yang mau diceritain tuh serba-serbi saat proses wisudanya. 


Tempat kita wisuda namanya al-Azhar Conference Center (ACC). Ruangannya luas dan megah. Di sepanjang bagian kursi yang tengah diisi dengan para wisudawan dan kanan-kirinya tempat duduk audience umum. Kita disusun perbaris kursi sesuai dengan taqdir nilai ujian. Yups sesuai yang kalian duga, sebagai mahasiswa yang belum punya nilai saat itu aku dapat kursi 2 baris belakang. Sungguh sangat tidak strategis, karena sudah di belakang, di barisan itupun aku dapat kursi yang di tengah. Fix berada di posisi yang sudah pasti akan sulit dapat angle foto bagus dari tim dokumentasi. Dan terbukti aku nggak punya foto yang pas dalam ruangan itu selain saat maju ke panggung menerima sertifikat. Kesimpulan: kalau mau dapat foto bagus saat wisuda, usahakan tidak manqulain di tingkat 4 kuliah.


Hari itu hari yang lumayan panjang. Dimulai sejak jam 7 pagi yang sudah harus berada di tempat untuk gladi, sampai pasca acara harus "berserah diri" untuk diajak foto sana-sini. Setidaknya dengan teman-teman Kemass Mesir yang punya tradisi setiap tahun harus banget foto bareng di Monumen Anwar Sadat. Beruntung sore itu di sana sudah bisa dipakai untuk berfoto, padahal pagi harinya Monumen Anwar Sadat masih dipakai untuk peringatan "Sittah Oktober" dan dihadiri presiden Mesir. Kami foto-foto di sana dari asar sampai tiba azan maghrib lalu pulang. Entah berapa banyak pose yang diabadikan.


Hal lain dari wisuda, yang bisa dimasukkan dalam kategori "lumayan bikin insecure" itu adalah, bakal ada atau tidaknya teman yang ngasih bunga/hadiah. Toxic-nya, ini sudah menjadi stigma buruk masyarakat (baca: Masisir). Aku sendiri pernah denger langsung ujaran-ujaran yang --menjurus kompetisi-- nggak penting, seperti: banyak-banyakan dapet hadiah. Jadi nggak perlu heran saat ada wisudawan/ti yang sebelum hari H sudah sibuk "promo" atau ngode ke teman dan adik-adik kelasnya buat dateng --dan pastinya beserta hadiah lah, heyy. Lalu di hari H, antar wisudawan/ti yang akhirnya memang dapat banyak hadiah, sibuk maksain untuk nentengin semua hadiah tersebut selama berfoto. Sungguh merepotkan kalo itu cuma buat ajang pamer dan disombongin.

Ini abis nulis ini bakal dibilang julid nggak ya. Bodo lah tapi.

Soalnya gara-gara kebiasaan itu, menjelang wisuda kemarin aku mau nggak mau jadi kepikiran juga. Sebagai lelaki yang nggak populer dan suka mager, jangan kan ngarep buat dapet banyak, bisa jadi malah nggak ada yang bawain. Sebuah kekhawatiran yang nggak berfaedah. Padahal coba kalo nggak ada tradisi gini, yang wisuda nggak perlu insecure, temen yang dateng juga nggak perlu merasa terintimidasi kalo sayang duit  lupa beliin hadiah.

Oh iya, wisuda ini walau yang ngadain temen-temen mahasiswa Indonesia, tapi acaranya dibuka untuk umum. Jadi mahasiswa luar kayak temen Malaysia, Thailand, Nigeria, Afghanistan dll juga boleh gabung, walau cuma beberapa --asal bayar. 

Tapi kalaupun nggak sempet ikut yang ini, dari al-Azhar nanti pun juga bikin acara serupa. Aku ikut dua-duanya. Karna walau sama-sama acara wisuda, ada hal lain yang bikin tertarik untuk ikut dua kali.
Pertama, peserta wisuda yang Azhar ini lebih variatif dari berbagai negara. Nggak cuma didominasi mahasiswa Indonesia doang. Jadi suasana "wisuda luar negeri"nya lebih kerasa.
Dua, seragamnya. Kalo wisuda PPMI tuh kita pakai jubah putih dilapisin kakula hitam khas al-Azhar plus selempang hijau, medali dan peci yang Azhar banget (seperti foto di atas tadi). Lebih gagah sih emang keliatannya, kayak bener-bener dicitrakan sebagai seorang calon duta Azhar (Karna emang seragam itu termasuk starterpack masyayikh kibar yang sering dipakai untuk acara-acara besar). 
Nah di wisuda yang Azhar ini kita pakai pakaian wisuda yang sesuai kayak umumnya: jubah kebesaran dan toga. Toganya itu sih yang bikin serasa wisuda banget. Dari dulu selalu pengen punya foto loncat sambil lempar toga ke atas. Haha. Kalo peci Azhar yang dilempar kan nggak sopan. Dan akhirnya keinginan absurd itu kesampaian juga kemarin.


Pendaftaran wisuda Azhar ini udah dibuka sejak sebulanan lalu. Syaratnya mudah, cuma fotokopi paspor depan dan ijazah sementara. Menjadi lebih menarik karna nggak dipungut biaya sepeserpun. Karna semua udah ditanggung penyelenggara, jiwa yang menggebu saat mendengar kata gratis pun jadi nggak perlu pikir panjang buat langsung daftar. Berkas daftar kemarin nitip pula ke temen yang tinggal di asrama Buuts, kawasan di mana kantor Azhar Parliament berada. Effortless parah.

30 Desember 2019 kemarin acara diselenggarain. Pukul setengah 9 paginya aku berangkat ke ACC make bis lagi-lagi gratis dari Buuts. Katanya acara dimulai jam 9, tapi udah ketebak pasti bakal molor karna banyak kursi peserta yang masih kosong dan tamu undangan di kursi depan belum datang. Sekitar pukul 11 akhirnya berlangsung juga hingga menjelang asar.
Sebagai seorang lulusan berpredikat mahasiswa biasa, aku dapat nomor urut kursi 158. Cuma entah kenapa nomor urut 110 ke atas tempatnya di kursi bagian tengah depan, dan urutan 1-100 malah ada di sebelah kanan terus ke belakang. Beruntungnya lagi, karna barisan depan masih saja kosong saat acara sudah hendak dimulai, kami pun disuruh maju. Hingga akhirnya aku berada di posisi barisan nomor 2 terdepan dan tepat sekali di bagian tengah, selurus dengan panggung. Sebuah posisi yang kalau di wisuda PPMI kemarin akan diisi dengan mahasiswa-mahasiswa bernilai mumtaz. Tentu enaknya posisi ini adalah dapat melihat panggung lebih jelas dan kemungkinan masuk foto sangat besar. Sempet ngomong ke temen samping "Kek gini ternyata rasanya jadi mahasiswa mumtaz."
Allah memang mengerti hambanya ya~ seolah keluhan wisuda yang lalu dibalasNya sekarang. 

Selesai pembagian sertifikat - foto bareng khirrijin di panggung dan sisa acara selanjutnya tinggal untuk para mutafawwiqin, rasanya keperluan di dalem udah abis. Jadi aku milih udahan ngikut acara dan bareng temen yang lain keluar untuk zuhuran.

Acara wisuda versi parlemen Azhar ini nggak terlalu rame dihadirin junior. Selain publikasinya yang nggak semasif wisuda PPMI, juga karna pelaksanaannya di tahun ini yang molor sampai akhir tahun, mepet masa ujian termin satu. Kalau aku di posisi mereka juga pasti males dateng sih. Mending di kamar buat persiapan imtihan yang tinggal beberapa hari. Teman angkatan yang ikut wisuda pertama pun hanya beberapa saja yang ikut lagi wisuda ini, beberapa bahkan sudah pulang ke Indonesia. Tapi sisi lainnya jadi nggak rempong untuk foto bareng sana-sini, cukup puas berpose di depan gedung acara. Walau sayang sekali nggak bisa lama-lama, karna jubah dan toga --pinjeman panitia-- udah disuruh balikin. Hah. Beginilah kalo gratisan~.

________________
maddah : pelajaran
pulang 'alatul : nggak tinggal sini lagi
taqdir : bentuk nilai
manqulain : sisa 2 pelajaran
Sittah Uktuber :  6 Oktober, Peringatan kemenangan perang terhadap Israel pada tahun '73
masyayikh kibar : Syekh-syekh besar
mumtaz : cumlaude
khirrijin : alumnus
mutafawwiqin : yang berprestasi
imtihan: ujian


Thursday, 5 December 2019

Wisuda, Lalu Apa


Dua bulan lalu, tepatnya tanggal 3 Oktober 2019 jadi hari yang rasanya... campur aduk. Momen wisuda yang harusnya disambut suka-cita dan rasa syukur tapi kalo boleh jujur nggak sepenuhnya aku nikmatin. Saat itu sebenarnya aku belum dikatakan telah lulus. Karna nilai remedial ujian tingkat akhir belum keluar hingga sebulan ke depan. Tapi berhubung panitia penyelenggara wisuda ini adalah PPMI (Persatuan Pelajar & Mahasiswa Indonesia) sendiri, enaknya masih dibolehkan ikut.

Banyak temen yang hadir ngeramein, ataupun temen-temen di Indonesia juga ngucapin selamat dll, tapi hari itu masih terasa hambar. Pikiranku berkecamuk. "Nih kalo beneran lulus, gimana deh". Pikiran yang masih terngiang sampe sekarang.

Cerita mundur sedikit, jauh hari sebelum ujian remedial dilaksanain aku udah gamang duluan. Dari dua pelajaran yang harus diuji ulang, apa yang harus dilakuin? Nanti kalo lulus dua-duanya berarti jalan panjang nan berkelok akan terbentang. Hal-hal yang pernah kutulis di tulisan sebelumnya (di sini) akan terjadi. Persoalan nikah, lanjut S2, kerja dll akan menghantui. Sedangkan kalo nggak lulus, tentu aku masih dapat waktu lenggang satu tahun lagi untuk bersiap-siap, kan? Keknya yang ini bakal lebih enak.

Lalu yang mana?
H-2 ujian remedial masih belum buka buku. Saat itu yang mantap kupilih adalah mungkin belum lulus lebih dulu bakal lebih baik (baca: lebih santai?). Banyak alasan-alasan yang kubangun: Biar bisa lebih lama di Mesir lah, trus karna setahun ke depan cuma bawa 2 matkul bakal banyak waktu untuk talaqqi, kursus ini-itu dll lah.
H-1, kepikiran lagi. Mungkin bakal malu-maluin kalo pas jawab ujian isi kertasnya kosong karna nggak belajar sama sekali. Jadilah coba kuulang-ulang sedikit, dengan buka bookmarks ujian sebelumnya.
Berapa jam menjelang masuk ruang ujian, kembali tersentak oleh "apa yang aku lakuin ini bener ya. Apa nanti akan disesali?"

Di luar perkiraan, ternyata sebagian soal yang keluar tepat di halaman yang sempat dibaca. Bentuk soalnya pun bisa dikatakan serupa. Ruangan ujian mendadak jadi lebih dingin. Apa ini pertanda?
Jadi gimana, isi sesuai yang dipelajari atau tetap abaikan aja?

Singkat cerita, 17 November cek nilai: Lulus.
Sebuah plot twist yang kubuat sendiri.
Hal kilat yang kusadari saat di ruangan itu adalah, diri yang terlalu takut melihat masa depan lalu mencari alasan-alasan pendukung agar tak perlu bersusah dulu sekarang. Padahal rasa takut itu akan selalu ada  di benak dan rintangan masa depan pun tetap menunggu untuk dilalui, sedangkan yang kurencanakan saat itu hanya menundanya terjadi. 
Tak ada yang berubah kalo aku sendiri pun nggak beranikan diri ngambil sikap untuk memilih maju, mau hadapi kenyataan dan berlapang dada buat nerima kemungkinan-kemungkinan lain nantinya.

Dan.. begini lah aku sekarang. Menghitung bulan atau minggu, bersiap untuk melompat ke fase lain kehidupan. Entah lanjut S2 di sini atau di mana, entah pulang lalu apa, atau menikah dengan siapa?
Belum tahu pastinya. Tapi yang kutahu penting adalah, menyiapkan diri untuk itu semua, karna apapun tentu bisa saja terjadi, ya kan.

Terakhir, mungkin sedikit kata lagi bagi teman pembaca yang saat ini belum lulus sarjana, biar seenggaknya tulisan ini ada menyisakan tanda tanya yang baik. 
Satu tahun terakhir kuliah itu memang sering jadi drama tersendiri di otak. Tapi jangan seperti aku yang hingga detik terakhir pun masih bingung mau ngapain. Kalian bisa susun planning A, B dan C  dari sekarang, buat skala prioritas kerjaan, lalu persiapkan diri. Bukan lagi cuma jalani hari kek biasa seperti tahun-tahun sebelumnya dan kemudian saat lulus baru sibuk "abis wisuda, lalu apa?"

Sunday, 6 October 2019

Ketemu lagi, Matrouh!


Blog makin nggak keurus. Dua tahun terakhir ini tuh masa-masa nulis ginian pun jadi berat. Padahal di awal mulai dulu sebulan bisa 2x ngepost tulisan baru. Setelah dipikir, mungkin karena aku mulai milah-milih buat cuma nulis sesuatu yang bakal bikin pengunjung blog seneng. Padahal niat mulai ngeblog bukan untuk siapapun selain buat diri sendiri yang butuh wadah nyalurin hasrat nulis, share keresahan-keresahan atau cerita harian. Ya semua itu berubah saat aku mulai tergoda statistik pembaca.

Tapi kali ini aku mutusin ulang, bakal nulis apapun yang aku mau walau nggak ada pembaca sekali pun. Daripada kelamaan mikir trus nggak nulis-nulis, kan? 
Jadi mari mulai dari cerita akhir bulan lalu.

Tanggal 20-22 September aku ikut rihlah Kemass (Kekeluargaan masyarakat Sum-Sel di sini) ke daerah luar Kairo namanya Marsa Matrouh (Daerah utara Mesir). Mungkin ini jalan-jalan pertamaku di tahun ini yang ke luar ibu kota. Yah, hampir satu tahun ini seringnya cuma rebahan di kamar. Jadi emang momen rihlah ini ditunggu banget. Walaupun hampir juga nggak ikutan kalo aja jadwal rihlahnya nggak dimundurin.

Awalnya Kemass mo berangkat akhir Agustus, padahal di awal September aku ada ujian remedial sampai tengah bulan. Lucky for me rihlah diundur jadi bisa ikut ngeramein momen setahun sekali gini.

Destinasi Matrouh ini dipilih setelah Kemass melakukan istikharah berkali-kali. Haha. Agak sulit emang cari destinasi rihlah yang bagus tapi menyesuaikan budget mahasiswa --aku tau kebimbangan ini karna tiap kali main ke Rumah Limas (nama sekrenya Kemass) suka ngobrolin soal rihlah bareng ketuanya -temen sendiri.

Biasanya lokasi murah-meriah yang suka jadi tujuan refreshing Masisir (Mahasiswa di Mesir) untuk kawasan luar Kairo tuh, kalo nggak Alexandria, ya daerah Dimyat yang lokasinya nggak terlalu jauh --jadi cukup hemat di ongkos transportasi. Di daerah Dimyat ada tempat namanya Raas El-Bar dan Gamasa. Dua tahun pertamaku di Mesir kita rihlah ke sana. Ada pantai --pasirnya luas parah, bisa dipake main bola kaki-- dan pasar malam. Bahkan pas di Gamasa kita dapat penginapan yang langsung ngadep ke laut. Nikmatin banget selama di sana.

Lah, jadi cerita masa lalu.

Tahun ini sebenernya panitia sempat kepikiran buat ke Dimyat lagi. Tapi setelah ditimbang-timbang akhirnya lebih milih Matrouh karna pantainya jauh labih bagus dibanding Dimyat dan itung-itungan budgetnya nggak jauh beda. Dua tahun lalu Kemass juga udah ke Matrouh sih. Tapi ke Matrouh + Siwa (Kawasan gurun pasir luas yang ada oasisnya). Cuma harga ke dua tempat itu sekarang dah  naik mahal banget. Belum lagi kalo pas ke Siwa kan biasanya yang dicari adalah naik mobil off-road yang justru perlu bayar lagi. Totalnya bisa 1000an pound. Tapi kalo ke Matrouh cukup keluar setengahnya.

Jadi inti tiga paragraf terakhir ini tuh: Matrouh adalah pilihan paling bijak (baca: hemat). 
Terima kasih telah menyia-nyiakan waktu  membaca anda.

Kamis malam, pukul 1 dini hari lewat kita cuss naik bis, berangkat.
Sampai pagi harinya ke hotel dulu naro barang-barang lalu bebas berkeliaran masing-masing. Agenda rihlahnya baru mulai dari abis shalat jumat. Btw, penginapan kita deket pantai, walau nggak langsung ngadep laut. Di saat yang lain istirahat, aku lebih milih keliling-keliling sebentar nikmatin udara pantai --setelah sekian lama cuma nikmatin polusi ibu kota-- sambil hunting foto dikit-dikit.

Oh ya, selain cuma refreshing melepas penat abis ujian akhir tahun, tujuan aku ikut rihlah adalah buat nambah stok foto dan footage video. Dah lama banget nggak update portofolio di sosmed.
*Tapi malah jadinya hampir sepanjang rihlah kemaren sibuk dengan kamera.

Abis jumatan di masjid dekat penginapan, kami naik bis menuju Hammam Cleopatra. Katanya ini tempat di mana Ratu Cleopatra mandi. Yah, ini jadi semacam tempat bersejarah gitu yaa. Di luar alesan betapa nggak pentingnya kita ngunjungin kamar mandi orang, tempat ini lumayan indah. Air lautnya sangat biru, bening. Di bibir pantai juga banyak batu-batu karang termasuk satu yang mencolok --karna gede banget. Karang gede itulah (bentar, itu karang apa batu ya) yang konon di dalemnya jadi tempat pemandian Sang Ratu. Di pantai ini kita nggak dibolehin mandi, ya karna karang-karang tajam di sepanjang pinggiran pantai itu tadi.


Dua tahun lalu, Hammam ini tempat yang nggak kerawat gitu sih. Tempatnya terbuka aja, bebas. Tapi sekarang udah dibagusin. Dibangun gerbang masuk (jadi perlu bayar tiket), ada bangunan kecil dan tempat main. Bahkan jalan menuju karang gede juga dikasih jembatan kaca.

Sekitar satu jam di sana, kita lanjut ke pantai lain namanya Ageeba (bisa diartiin ajaib, atau amazing gitu lah). Air lautnya biru banget. Bahkan alasan kenapa dibilang ajaib tu karna katanya air di pantai ini bisa munculin tujuh warna (ntah warna apa aja). Cuma konon ya~ belum pernah liat langsung semuanya.
Buat menuju bibir pantai, kita mesti turun tangga lumayan jauh. Karna emang pantainya diapit tebing gitu dan kita parkir di atasnya. 
Di sini kita bebas buat berenang.


Kurang-lebih sepanjang sore di Ageeba, lalu kita pun pulang ke penginapan.

Oh iya, rihlah Kemass tuh seperti biasanya cuma 3 hari 2 malam.
Di malem pertama ini kita dikasih jadwal bebas mau keliling ke mana aja selagi masih sekitaran penginapan.

Rata-rata pada pergi ke pasar malem atau jalan di sebrang pinggiran pantai yang banyak orang-orang setempat jualan. Sebagian lagi pergi ke Suuq (Pasar) Libya. Lokasinya lebih jauh daripada ke pasar malam.
Kalo aku bareng beberapa temen yang lain milih ngabisin waktu ke pasar malam dan sekitarnya. Karna ke pasar Libya udah pernah pas rihlah dua tahun lalu. Nggak terlalu istimewa juga barang-barang yang dijual di sana.

Tapi sebenernya pas di pasar malam kita juga nggak ngapa-ngapain sih selain foto-foto dikit. Nggak naik wahana dsbg. Cukup ngobrol-ngobrol dan nikmatin udara malem gitu doang aja. Ya kalo aku justru nikmatin foto-fotoin suasananya. Kebetulan bawa lensa fix punya Kemass, jadi enak buat dapet foto yang blur-blur bokeh gitu. Di jalan pulang kita mampir ngisi perut di EFC (Egypt Fried Chicken) --saingan KFC nih. 

Siang hari kedua, tanggal 21. Agendanya adalah mandi dan naik banana boat di pantai deket penginapan. Tapi aku nggak ikutan naik sih. Cuma naik speed boat-nya, moto dan videoin temen-temen yang naik banana boat. Kita di sana sampe senja turun~~


Sore itu sebenernya lumayan cemas karna HP yg kutitipin di teman saat mau foto di atas speed boat dititipin lagi ke orang lain. Dioper lagi gitu tapi cuma ditaro di atas meja. Yang bikin khawatir karna ternyata yg dioper itu nggak ingat kalo dititipin, padahal posisi kita sudah di hotel. Beruntung ternyata masih ada temen di pantai yang bawain barang-barang ketinggalan. Fuh. 

Agenda malam harinya --malam terakhir-- adalah makan dan kumpul bareng di pinggir pantai. Aku nggak ikut kumpul sampe selesai. Selain karna angin pantai yang makin nggak bersahabat (kencang banget sampe tembus ke rusuk nih), isi acara kumpul malam itu adalah ngeprank anak baru. Karna dah tau duluan siapa yang bakal dan akan kena prank (sebab keikut obrolan "panitia" di malam pertama rihlah) jadi aku pikir nggak bakal seru lagi buat ngikutin sampe akhir. Jadi mending misah trus lanjut hunting sendiri di sekitaran pantai. Kalo isi acaranya game, bakar-bakar jagung atau permainan seru-seruan gitu mungkin masih betah walau nahan dingin.

Karna pagi hari terakhir besok nggak ada agenda, aku nggak begadang lagi malam itu. Soalnya ya kalo nggak tidur malem, otomatis paginya kepake tidur. Sayang di waktu. Karna sorenya kita dah jalan balik.

Sepulang hunting pagi-pagi, tetiba penginapan lagi heboh. Ada temen yang kemalingan! Pertama ngira ada yang prank lagi. Ternyata beneran. Kejadiannya bisa dipastiin pagi itulah selagi pada tidur (karna malemnya begadang). Yang ilang lumayan banget sih. Dua smartphone dan satu tas yang dalemnya ada dompet berisi macem-macem kartu termasuk ATM.

Setelah dilihat-lihat, tebakan kita si maling masuk dari sebrang jendela kamar. Malem itu emang jendela mereka dibuka. Sayangnya, kebetulan jarak antar gedung tuh deket banget, cukup sekali lompatan. Dan kamar mereka ada di lantai dua (kecil resiko kalo pun si maling jatuh). Ketebak gitu karna tas dan dompetnya ditemuin di gedung sebelah --tentu kondisinya sudah kosong.
Sebenernya ada harapan buat nemuin si maling kalo aja CCTV yang ada di gedung sebelah bisa kita cek. Masalahnya yang tanggung jawab sama gedung itu susah ditemuin karna emang masih pagi kan. Kebanyakan masih nyenyak tidur. Jadilah sampe sebelum kita pulang belum bisa diusut dan cuma bisa minta yang kehilangan untuk berbesar hati. Duh kasian tapi gimanaa.

Lalu sorenya kita balik.
Sepanjang perjalanan pulang dalem bis, selain ada teka-teki berdoorprize, ada juga diisi dengan penyampaian kesan-kesan selama rihlah. Mainstream emang tapi lumayan lah menghibur. Soalnya ada anak baru yang di luar dugaan punya kesan "pribadi" tentang perasaannya terhadap salah seorang peserta rihlah, yang ternyata cukup pelik karna terkuak mengandung cinta segitiga. 
Oh, drama remaja puber~ 

Tambahan cerita lucu pas jalan balik, di pemberhentian rest area pertama --perjalanan sekitar 6 jam lebih-- buat maghriban sekaligus jamak, aku berada di posisi mau nggak mau harus mesen teh karna masih nungguin temen-temen yang lain gantian shalat. Nunggunya sambil nonton bola yang kebetulan ada laga big match Premiere League, jadi mesen kursi sambil pesan minum.

Padahal, aku tuh alergi banget dengan kopi dan teh terutama di perjalanan. Karna biasanya efek abis minum itu jadi pengen bolak-balik buang air. So, jadilah sepanjang sisa perjalanan selanjutnya tersiksaa nahan air karna wc kecil di bis nggak bisa difungsiin, hadehhh. 
Beruntung kita tuh stop 2x. Jadi setelah nahan sekitar 2 jam dalem bis, kepentingan pribadi (baca: hajat terpendam) bisa tersalurkan jugaa.  Terima kasih, Tuhaan. 

Di rest area ini ternyata sekalian makan malam. Beruntung lauk malam itu enak, jadi lumayan mengalihkan pikiran dari ketersiksaan sebelumnya.

Eh, ini sebenernya nggak penting banget ya diceritain. Tapi bomat lah.
Dah, gitu doang~

Cheers... 

Wednesday, 1 May 2019

Malam Festival



Seperti biasa, entah kenapa makin menjelang ujian malah jadi pengen nulis banyak hal.
Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 27 April, aku bertiga dengan teman rumah jalan ke Qal'ah Salahudin al-Ayubi. Benteng tua dari abad 12 Masehi ini lokasinya nggak jauh dari rumahku. Cukup naik mobil sekali, 10 menit sampe. Kita ke sana karna ada festival tradisional musik internasional. Nama resmi acaranya "The International Festival for Drums and Traditional Arts", berlangsung satu minggu penuh dan yang kita hadirin malam itu adalah momen penutupannya. Tiap hari mereka pindah-pindah lokasi sih. Sebelumnya di Qubet Alghuri, al-Moez Street, Sahet el-Hanager Theater, International Garden di Nasr City & banyak lagi.

Acara ini biasa diselenggarain tiap tahun sejak 2013 lalu di lokasi yang sama. Ini kali kedua aku dateng --empat tahun dulu kita perginya rame-rame serumah. Oh iya, lebih rinci lagi, sebenernya mahragan (festival) gini diadain 2x setahun, tapi di satunya lagi yang ditampilin adalah musik-musik keagamaan, pada bulan september. Nama festivalnya "Mahrajan el-Samaa'". Adalah Dr. Intisar Abdul Fatah sebagai sang penginisiasi sekaligus komponis perhelatan akbar ini.

Partisipannya ada dari 20 negara di empat benua. Salah satunya Kolombia, Cina, Polandia, Armenia, Srilanka, negara-negara timur tengah, termasuk juga Indonesia. Nah yang dari Indonesia ini biasanya yang ikut serta adalah teman-teman mahasiswa dari grup nasyid Da'i Nada, yang emang sering banget diundang tampil di TV Mesir dan di berbagai event ginian, bahkan sering juga jadi utusan resmi Kementerian Kebudayaan Mesir buat ke luar negeri. Keren emang mereka. Jadi ikut bangga.


Malam itu acara dimulai dari jam 8. Kita karna ngerasa tempatnya deket jadi jalan agak nyantai. Setengah 8 berangkat trus sampe, ternyata di depan gerbang masuk orang masih rame ngantri buat ke dalem. Masalahnya, dari tadi pintu ditutup sebentar jadi orang-orang pada numpuk. Karna bentar lagi dah mau mulai, jadilah sebagian pada ribut ke petugasnya minta dipercepat dan sekitar 15 menit baru pintu dan pagarnya dibuka lagi.

Oh iya, alesan  sebenernya kenapa aku mau pergi kali ini adalah buat ngeliput. Rencananya sih buat dikirim ke Citizen Jornalism, NET TV. Itu lho website terbuka untuk siapapun orang Indonesia yang punya berita bisa kirim ke sana, terus kalo diterima bakal dapat upah. Upahnya sih lumayan buat kita yang punya berita dari luar negeri. Hehe. Makanya ini diniatin banget pergi, kali aja kan rezeki.

Masalahnya, kita salah perhitungan. Harusnya kita dateng minimal 1 jam yang lalu.
Acara ini boleh bertajuk sama, tapi peserta yang hadir kali ini beda banget dengan 4 tahun lalu. Tahun ini ramenya naudzubillah. Beh, parah sih. Mau ke daerah yang selurusan panggung tu nggak dapet-dapet. Jangankan tempat duduk, buat berdiri biar panggung keliatan aja susah banget. Padahal kita mau ngeliput nih. Niat mau ngambil footage video dari berbagai sudut bahkan kalo bisa ke depan panggung 'pas', mendadak jadi ngimpi. Dulu sih kita santai aja buat pindah-pindah kursi, keluar-masuk. Bener-bener nggak nebak bakal berubah gini situasinya. Acaranya beneran berhasil menarik animo masyarakat sekitar. 


Kalo aja nggak ada rencana liputan tadi, aku bisa aja langsung pulang. Haha. Tapi yaudah deh, akhirnya grasak-grusuk nyoba nyempil-nyempil di tengah orang Mesir yang gede-gede dan tinggi. Dengan usaha ekstra, akhirnya kita pun dapet lah beberapa cuplikan acaranya walau nggak maksimal. Selain kejepit-jepit orang, juga kameraku agak gelap untuk suasana malem. Soalnya nggak berani nih make pengaturan ISO di atas 800. Takut hasilnya noise parah.

Jam 10 menjelang acara selesai, pas sebagian orang pada beranjak pulang, baru kita bisa masuk ke bagian bawah yang sehadapan panggung. Nggak disia-siain, langsung shoot dari deket. Setelah acara selesai, aku ketemu sama temen yang nampil. Kemarin malamnya aku udah bilang sih mau wawancara. Jadi kita dibawa ke samping panggung buat ngobrol dengan si vokalis sekaligus pendiri  grup Da'i Nada, namanya bang Nur Akhyari. Abis wawancara, aku dibilangin sama kakak senior dari Palembang yang juga nampil, katanya lain kali bilang-bilang dulu kalo mau ngeliput, biar dari sebelum acara mulai mereka bisa ajakin ke daerah deket panggung. Wah iya juga ya. Harusnya kalo punya orang dalem gini kan dimanfaatin fasilitasnya. Hehe. Next time lah insyaallah.

Sebelum pulang, karna udah lama banget nggak ke benteng ini, kami sempetin dulu foto-foto dengan background Masjid Ali Pasha --posisinya di bagian atas benteng. Karna ini di dataran tinggi, hampir se-seantero Kairo bisa liat masjid ini dari jauh. Kalo malem, masjidnya dikasih hiasan lampu di sekelilingnya, jadi keren. Seingetku terakhir kali masuk sini tuh, pas diminta tolong jadi fotografernya kakak senior yang mau foto-foto make pakaian wisuda bareng keluarganya, sekitar 3 tahun lalu. Dah lama banget.

Sampe rumah, malem itu juga video-video yang udah kuambil diedit jadi satu, lalu dikirim ke laman website. Karena kan berita ini masuk kategori moment, jadi harus cepet-cepet dipublish sebelum keduluan basi. Masalahnya, 3 hari berlalu sejak hari itu, video ini juga belum dapet kejelasan. Jadi kesimpulan kami, kita belum diterima. Hahahaha. Padahal event ini bagus banget lho buat jadi berita. Nasib, belum rezekinya. Tapi nggak papalah, pengalaman. Nggak kapok sih, lain kesempatan bakal coba ngeliput hal lain lagi. Dan biar nggak sia-sia, tulisannya masuk di sini~

 
biz.