Sunday, 12 April 2020

'Alatul



Hari ini tepat dua bulan lalu meninggalkan Negeri Seribu Menara yang juga bisa kutulis sebagai negeri seribu kenangan: Mesir. Enam tahun di sana tentu bukan waktu yang sedikit. Banyak hal yang sudah dilakukan, teman-teman baru yang sudah seperti keluarga, keberhasilan melewati hal-hal luar biasa --di luar dugaan kadang-- dan momen-momen memorable di hampir setiap sudut ibu kotanya.

Walau mestinya kutulis ini di awal-awal kepulangan kemarin saat memorinya masih segar terekam. Tapi yaa better late than never, kan. Sayang kalo tentang ini nggak dituangkan di blog.

Awal 2020 dimulai dengan sesak. Membayangkan lepas dari lingkungan tempat aku tumbuh dewasa dan sudah terbiasa di sana --sungguh berat. Sebulan terakhir menjelang 'alatul  (istilah di Mesir bagi orang yang pulang dan tidak berniat kembali lagi) aku mulai lebih fokus memerhatikan jalan-jalan yang biasa kulalui beserta suasana yang ada. Gang sempit komplek Darrasah, luasnya Masjid Azhar, ramainya kendaraan selama jalan ke Hay Asyir, dinginnya bulan Januari, serunya nobar MU di kafe bawah rumah dan nyamannya tidur pagi selama musim dingin. Haha. 
Sembari itu yang selalu kupikirkan hanya "kapan lagi aku bisa menikmati hal ini". Karna bukan sebuah pertanyaan, jadi aku merasa tak perlu berlarut mencari jawabannya. Cuma doa saja yang aku panjatkan dengan lirih di saat take off pesawat Egypt Air menuju Saudi, "semoga di lain waktu punya rezeki ke negeri kinahah ini lagi".

Lalu hari Rabu, 12 Februari itu pun tiba.
Malam terakhir gagal kupakai untuk istirahat karena diluar perkiraan butuh waktu sampai subuh untuk menyelesaikan packing barang. Tapi keuntungannya aku bisa subuhan berjamaah di Masjid Azhar. Setelah shalat, di jalan pulang jadi sedikit sibuk merenung, entah berapa banyak waktu yang sudah kusia-siakan, lebih sering bersantai di rumah daripada talaqqi di ruwaq-ruwaq masjid ini.
Sebuah kesadaran yang mungkin tak bermakna lagi. 


Paginya aku pamit dengan teman-teman rumah karna harus ke Rumah Limas dulu (nama sekretariat kawan-kawan Sum-Sel) karna nanti berangkat bareng ke bandara Kairo dari sana. Yang paling berat ditinggalkan dari rumah adalah Simpus, kucing kampung yang sudah jadi anggota rumah sejak bulan puasa tahun lalu. Walau dia sering ngeselin karna suka sok-nggak-kenal kalo dipanggil saat sudah kenyang, tapi momen dia sering berdiam cari kehangatan ke atas kasurku sulit sekali dihilangkan. Jadi sebelum keluar, aku sempatkan dulu ambil foto dengannya dan dia entah ngapain  jadi ikut-ikutan nganter sampai depan pintu dengan memasang raut muka sedikit sedih. Hmm yaa mungkin dia merasa kehilangan. Kehilangan orang yang biasa beliin dia wiskas --tentunya.

Sekitar pukul dua siang aku dan teman-teman yang mau ikut nganter, berangkat dari Limas menuju bandara.

Walau sebulan terakhir jadi sedikit melow, tapi hari itu aku memutuskan sudah nggak mau terbawa suasana, aku ingin pulang dengan rasa bahagia. Tapi keinginan ini sedikit berat memang. Beberapa kawan nakal yang gelisah kenapa momen balik ini nggak ada rasa-rasa sedihnya, mulai menghasut dengan menyampaikan narasi-narasi sedih. Aku yang sudah tau trik basi ini --karna sebelumnya sering juga nganter senior/teman yang pulang-- nggak mau tergoda.

Sampai selesai foto-foto bareng di luar bandara aku masih nggak bergeming dan aku yakin nggak bakal ada dari kawan-kawan jahil ini yang merasa puas karna misi bikin-orang-nangisnya berhasil.
Tapi bahkan dengan keyakinan yang kuat sejak awal pagi hari itu pun, berujung ambyar juga di momen terakhir saat berpelukan sebelum masuk untuk check-in. Sungguh padahal aku sudah tahan-tahan sekuat tenaga, namun akhirnya mau nggak mau mengikuti hati dan menyadari "ternyata begini ya rasanya alatul". 
Dulu aku menganggap ini --secara kasar-- hanya sebuah formalitas pamitan dan edisi sedih-sedihan itu hanya part dari 'tradisi' nganter biar 'terasa' berpisahnya. Hingga aku ngerasain sendiri dan dengan berat mengakui bahwa "ini memang momen yang menyedihkan rupanya".


Untuk penutup yang baik, di akhir tulisan ini aku pengen nyampein
terima kasih banyak kepada teman-teman di Mesir yang selama ini sering aku repotkan, yang sering menemani bergadang buat saling tukar gosip pikiran, berbagi makanan padahal sama-sama lapar, juga atas kenangan pahit dan indah yang sudah bersama dilewatkan.
Mohon maaf jika banyak salah, sampai berjumpa lagi di Indonesia, semoga tetap saling menyapa --walau jauh tapi kan bisa via sosial media, hey.

Udah itu aja. Walau tulisan ini lebay, ya nggak apa-apalah. 
Toh ini blog siapa. Haha.

Depan Limas
Bandara

Wednesday, 1 January 2020

Serba-Serbi Wisuda



Sebagai mahasiswa yang jarang upload foto saat belajar --seringnya sih posting screenshot cuitan orang di Twitter-- berfoto & publish suasana wisuda adalah momen yang ditunggu. Setidaknya jadi bukti kalau selama di sini nggak cuma jalan-jalan dan sosmed-an. Lagian mana bisa juga lulus kalo nggak belajar sama sekali (walau suka langganan ngebut di injury time). Ntah deh kalo di Azhar ada yang bisa nyogok kelulusan? Haha keknya nggak ada, nggak pernah denger sama sekali. Paling yang masyhur di sini adalah "nyogok" Yang-di-Atas dengan tawasulan, ziarah makam Waliyullah, juga perbanyak shalawat dan minta didoakan --lewat status sosmed atau japrian broadcast hmm~

Hal lucu pernah terjadi. Saat aku baru pulang dari ibadah haji dua tahun lalu, salah satu teman sempat bertanya apa beneran aku selama sebulan terakhir nggak kelihatan karna pergi ke Mekkah. Sempat bingung sebentar buat mencerna pertanyaannya. Ternyata dia hanya meragukan, soalnya selama sebulan pergi haji dulu aku nggak pernah buat status atau update foto suasana haji. Owalah. Bener-bener "Aku bersosmed maka aku ada". Padahal waktu haji sering sih dokumentasiin kegiatan, cuma lebih ke disimpen pribadi aja. Buat kenangan.

Balik lagi soal wisuda. 
3 Oktober 2019 lalu aku ikut wisuda yang diadain oleh PPMI Mesir. Sempet ragu buat ikut karna --kayak yang aku ceritain di post sebelumnya-- waktu itu masih punya 2 maddah yang butuh remedi. Sedangkan pas tanggal wisuda udah ditentukan, nilai remedial kami belum juga keluar. Yang aku pikirin adalah, kalo aku daftar terus nanti nggak lulus, rasanya bakal males banget setahun ke depan bakal ditanyain rangorang "Belum lulus kok dah wisuda ya". Sedangkan kalo aku nggak daftar wisuda tahun ini dan ternyata lulus, yakali kan sayang banget nggak punya foto kelulusan. 

Akhirnya daftar, dan hal yang dikhawatirkan beneran terjadi. Di hari H pulang wisuda saja teman-teman junior udah sibuk nanya "Abis ini kakak lanjut S2 mana", "Ada rencana pulang alatul belum nih" dll. yang cuma bisa aku jawab "Hehe. Belum tau nih. Masih perlu istikharah dulu" dsbg. Tapi ya sebenernya itu pertanyaan yang wajar, karna mereka juga nggak perlu dan untuk apa juga tau kalo aku belum bener-bener lulus dan masih nyisain dua matkul. Yang diketahui awam kan dengan seseorang-ikut-wisuda berarti ya dianggap sudah lulus, gitu. Dan semenjak hari itu hingga turun nilai aku merasa  sedang membohongi dunia. Bahkan nyeseknya ada teman yang tau aku wisuda dan juga tau masih nyisa dua, terang-terangan ngomong "Halah daftar wisuda, padahal belum lulus juga". Haha sungguh ringan sekali pernyataan tersebut keluar.
Syukurnya ini cuma soal penundaan informasi saja. Aku lulus dan tidak jadi melewati satu tahun ke depan dengan omongan berdengung ala netizen.

Ini dari tadi curhat nggak jelas. Padahal rencana yang mau ditulis bukan soal ini.
Lupakan. Aslinya yang mau diceritain tuh serba-serbi saat proses wisudanya. 


Tempat kita wisuda namanya al-Azhar Conference Center (ACC). Ruangannya luas dan megah. Di sepanjang bagian kursi yang tengah diisi dengan para wisudawan dan kanan-kirinya tempat duduk audience umum. Kita disusun perbaris kursi sesuai dengan taqdir nilai ujian. Yups sesuai yang kalian duga, sebagai mahasiswa yang belum punya nilai saat itu aku dapat kursi 2 baris belakang. Sungguh sangat tidak strategis, karena sudah di belakang, di barisan itupun aku dapat kursi yang di tengah. Fix berada di posisi yang sudah pasti akan sulit dapat angle foto bagus dari tim dokumentasi. Dan terbukti aku nggak punya foto yang pas dalam ruangan itu selain saat maju ke panggung menerima sertifikat. Kesimpulan: kalau mau dapat foto bagus saat wisuda, usahakan tidak manqulain di tingkat 4 kuliah.


Hari itu hari yang lumayan panjang. Dimulai sejak jam 7 pagi yang sudah harus berada di tempat untuk gladi, sampai pasca acara harus "berserah diri" untuk diajak foto sana-sini. Setidaknya dengan teman-teman Kemass Mesir yang punya tradisi setiap tahun harus banget foto bareng di Monumen Anwar Sadat. Beruntung sore itu di sana sudah bisa dipakai untuk berfoto, padahal pagi harinya Monumen Anwar Sadat masih dipakai untuk peringatan "Sittah Oktober" dan dihadiri presiden Mesir. Kami foto-foto di sana dari asar sampai tiba azan maghrib lalu pulang. Entah berapa banyak pose yang diabadikan.


Hal lain dari wisuda, yang bisa dimasukkan dalam kategori "lumayan bikin insecure" itu adalah, bakal ada atau tidaknya teman yang ngasih bunga/hadiah. Toxic-nya, ini sudah menjadi stigma buruk masyarakat (baca: Masisir). Aku sendiri pernah denger langsung ujaran-ujaran yang --menjurus kompetisi-- nggak penting, seperti: banyak-banyakan dapet hadiah. Jadi nggak perlu heran saat ada wisudawan/ti yang sebelum hari H sudah sibuk "promo" atau ngode ke teman dan adik-adik kelasnya buat dateng --dan pastinya beserta hadiah lah, heyy. Lalu di hari H, antar wisudawan/ti yang akhirnya memang dapat banyak hadiah, sibuk maksain untuk nentengin semua hadiah tersebut selama berfoto. Sungguh merepotkan kalo itu cuma buat ajang pamer dan disombongin.

Ini abis nulis ini bakal dibilang julid nggak ya. Bodo lah tapi.

Soalnya gara-gara kebiasaan itu, menjelang wisuda kemarin aku mau nggak mau jadi kepikiran juga. Sebagai lelaki yang nggak populer dan suka mager, jangan kan ngarep buat dapet banyak, bisa jadi malah nggak ada yang bawain. Sebuah kekhawatiran yang nggak berfaedah. Padahal coba kalo nggak ada tradisi gini, yang wisuda nggak perlu insecure, temen yang dateng juga nggak perlu merasa terintimidasi kalo sayang duit  lupa beliin hadiah.

Oh iya, wisuda ini walau yang ngadain temen-temen mahasiswa Indonesia, tapi acaranya dibuka untuk umum. Jadi mahasiswa luar kayak temen Malaysia, Thailand, Nigeria, Afghanistan dll juga boleh gabung, walau cuma beberapa --asal bayar. 

Tapi kalaupun nggak sempet ikut yang ini, dari al-Azhar nanti pun juga bikin acara serupa. Aku ikut dua-duanya. Karna walau sama-sama acara wisuda, ada hal lain yang bikin tertarik untuk ikut dua kali.
Pertama, peserta wisuda yang Azhar ini lebih variatif dari berbagai negara. Nggak cuma didominasi mahasiswa Indonesia doang. Jadi suasana "wisuda luar negeri"nya lebih kerasa.
Dua, seragamnya. Kalo wisuda PPMI tuh kita pakai jubah putih dilapisin kakula hitam khas al-Azhar plus selempang hijau, medali dan peci yang Azhar banget (seperti foto di atas tadi). Lebih gagah sih emang keliatannya, kayak bener-bener dicitrakan sebagai seorang calon duta Azhar (Karna emang seragam itu termasuk starterpack masyayikh kibar yang sering dipakai untuk acara-acara besar). 
Nah di wisuda yang Azhar ini kita pakai pakaian wisuda yang sesuai kayak umumnya: jubah kebesaran dan toga. Toganya itu sih yang bikin serasa wisuda banget. Dari dulu selalu pengen punya foto loncat sambil lempar toga ke atas. Haha. Kalo peci Azhar yang dilempar kan nggak sopan. Dan akhirnya keinginan absurd itu kesampaian juga kemarin.


Pendaftaran wisuda Azhar ini udah dibuka sejak sebulanan lalu. Syaratnya mudah, cuma fotokopi paspor depan dan ijazah sementara. Menjadi lebih menarik karna nggak dipungut biaya sepeserpun. Karna semua udah ditanggung penyelenggara, jiwa yang menggebu saat mendengar kata gratis pun jadi nggak perlu pikir panjang buat langsung daftar. Berkas daftar kemarin nitip pula ke temen yang tinggal di asrama Buuts, kawasan di mana kantor Azhar Parliament berada. Effortless parah.

30 Desember 2019 kemarin acara diselenggarain. Pukul setengah 9 paginya aku berangkat ke ACC make bis lagi-lagi gratis dari Buuts. Katanya acara dimulai jam 9, tapi udah ketebak pasti bakal molor karna banyak kursi peserta yang masih kosong dan tamu undangan di kursi depan belum datang. Sekitar pukul 11 akhirnya berlangsung juga hingga menjelang asar.
Sebagai seorang lulusan berpredikat mahasiswa biasa, aku dapat nomor urut kursi 158. Cuma entah kenapa nomor urut 110 ke atas tempatnya di kursi bagian tengah depan, dan urutan 1-100 malah ada di sebelah kanan terus ke belakang. Beruntungnya lagi, karna barisan depan masih saja kosong saat acara sudah hendak dimulai, kami pun disuruh maju. Hingga akhirnya aku berada di posisi barisan nomor 2 terdepan dan tepat sekali di bagian tengah, selurus dengan panggung. Sebuah posisi yang kalau di wisuda PPMI kemarin akan diisi dengan mahasiswa-mahasiswa bernilai mumtaz. Tentu enaknya posisi ini adalah dapat melihat panggung lebih jelas dan kemungkinan masuk foto sangat besar. Sempet ngomong ke temen samping "Kek gini ternyata rasanya jadi mahasiswa mumtaz."
Allah memang mengerti hambanya ya~ seolah keluhan wisuda yang lalu dibalasNya sekarang. 

Selesai pembagian sertifikat - foto bareng khirrijin di panggung dan sisa acara selanjutnya tinggal untuk para mutafawwiqin, rasanya keperluan di dalem udah abis. Jadi aku milih udahan ngikut acara dan bareng temen yang lain keluar untuk zuhuran.

Acara wisuda versi parlemen Azhar ini nggak terlalu rame dihadirin junior. Selain publikasinya yang nggak semasif wisuda PPMI, juga karna pelaksanaannya di tahun ini yang molor sampai akhir tahun, mepet masa ujian termin satu. Kalau aku di posisi mereka juga pasti males dateng sih. Mending di kamar buat persiapan imtihan yang tinggal beberapa hari. Teman angkatan yang ikut wisuda pertama pun hanya beberapa saja yang ikut lagi wisuda ini, beberapa bahkan sudah pulang ke Indonesia. Tapi sisi lainnya jadi nggak rempong untuk foto bareng sana-sini, cukup puas berpose di depan gedung acara. Walau sayang sekali nggak bisa lama-lama, karna jubah dan toga --pinjeman panitia-- udah disuruh balikin. Hah. Beginilah kalo gratisan~.

________________
maddah : pelajaran
pulang 'alatul : nggak tinggal sini lagi
taqdir : bentuk nilai
manqulain : sisa 2 pelajaran
Sittah Uktuber :  6 Oktober, Peringatan kemenangan perang terhadap Israel pada tahun '73
masyayikh kibar : Syekh-syekh besar
mumtaz : cumlaude
khirrijin : alumnus
mutafawwiqin : yang berprestasi
imtihan: ujian


 
biz.