Thursday, 5 December 2019

Wisuda, Lalu Apa


Dua bulan lalu, tepatnya tanggal 3 Oktober 2019 jadi hari yang rasanya... campur aduk. Momen wisuda yang harusnya disambut suka-cita dan rasa syukur tapi kalo boleh jujur nggak sepenuhnya aku nikmatin. Saat itu sebenarnya aku belum dikatakan telah lulus. Karna nilai remedial ujian tingkat akhir belum keluar hingga sebulan ke depan. Tapi berhubung panitia penyelenggara wisuda ini adalah PPMI (Persatuan Pelajar & Mahasiswa Indonesia) sendiri, enaknya masih dibolehkan ikut.

Banyak temen yang hadir ngeramein, ataupun temen-temen di Indonesia juga ngucapin selamat dll, tapi hari itu masih terasa hambar. Pikiranku berkecamuk. "Nih kalo beneran lulus, gimana deh". Pikiran yang masih terngiang sampe sekarang.

Cerita mundur sedikit, jauh hari sebelum ujian remedial dilaksanain aku udah gamang duluan. Dari dua pelajaran yang harus diuji ulang, apa yang harus dilakuin? Nanti kalo lulus dua-duanya berarti jalan panjang nan berkelok akan terbentang. Hal-hal yang pernah kutulis di tulisan sebelumnya (di sini) akan terjadi. Persoalan nikah, lanjut S2, kerja dll akan menghantui. Sedangkan kalo nggak lulus, tentu aku masih dapat waktu lenggang satu tahun lagi untuk bersiap-siap, kan? Keknya yang ini bakal lebih enak.

Lalu yang mana?
H-2 ujian remedial masih belum buka buku. Saat itu yang mantap kupilih adalah mungkin belum lulus lebih dulu bakal lebih baik (baca: lebih santai?). Banyak alasan-alasan yang kubangun: Biar bisa lebih lama di Mesir lah, trus karna setahun ke depan cuma bawa 2 matkul bakal banyak waktu untuk talaqqi, kursus ini-itu dll lah.
H-1, kepikiran lagi. Mungkin bakal malu-maluin kalo pas jawab ujian isi kertasnya kosong karna nggak belajar sama sekali. Jadilah coba kuulang-ulang sedikit, dengan buka bookmarks ujian sebelumnya.
Berapa jam menjelang masuk ruang ujian, kembali tersentak oleh "apa yang aku lakuin ini bener ya. Apa nanti akan disesali?"

Di luar perkiraan, ternyata sebagian soal yang keluar tepat di halaman yang sempat dibaca. Bentuk soalnya pun bisa dikatakan serupa. Ruangan ujian mendadak jadi lebih dingin. Apa ini pertanda?
Jadi gimana, isi sesuai yang dipelajari atau tetap abaikan aja?

Singkat cerita, 17 November cek nilai: Lulus.
Sebuah plot twist yang kubuat sendiri.
Hal kilat yang kusadari saat di ruangan itu adalah, diri yang terlalu takut melihat masa depan lalu mencari alasan-alasan pendukung agar tak perlu bersusah dulu sekarang. Padahal rasa takut itu akan selalu ada  di benak dan rintangan masa depan pun tetap menunggu untuk dilalui, sedangkan yang kurencanakan saat itu hanya menundanya terjadi. 
Tak ada yang berubah kalo aku sendiri pun nggak beranikan diri ngambil sikap untuk memilih maju, mau hadapi kenyataan dan berlapang dada buat nerima kemungkinan-kemungkinan lain nantinya.

Dan.. begini lah aku sekarang. Menghitung bulan atau minggu, bersiap untuk melompat ke fase lain kehidupan. Entah lanjut S2 di sini atau di mana, entah pulang lalu apa, atau menikah dengan siapa?
Belum tahu pastinya. Tapi yang kutahu penting adalah, menyiapkan diri untuk itu semua, karna apapun tentu bisa saja terjadi, ya kan.

Terakhir, mungkin sedikit kata lagi bagi teman pembaca yang saat ini belum lulus sarjana, biar seenggaknya tulisan ini ada menyisakan tanda tanya yang baik. 
Satu tahun terakhir kuliah itu memang sering jadi drama tersendiri di otak. Tapi jangan seperti aku yang hingga detik terakhir pun masih bingung mau ngapain. Kalian bisa susun planning A, B dan C  dari sekarang, buat skala prioritas kerjaan, lalu persiapkan diri. Bukan lagi cuma jalani hari kek biasa seperti tahun-tahun sebelumnya dan kemudian saat lulus baru sibuk "abis wisuda, lalu apa?"

Ahmad Rofiq

Author

Seorang mahasiswa biasa di Universitas al-Azhar Kairo

0 komentar:

 
biz.