Thursday, 25 June 2015

Ramadhan di Pondok dan di Mesir

Masjid pusat pondok. Masjid Al-Bukhori













Kamis, 25 Juni 2015-

Hari ini sudah masuk hari ke-8 puasa di bulan Ramadhan. Wah, nggak kerasa. Semoga hari-hari kita nggak lewat begitu saja ya. Hehe.

Ngomong-ngomong tentang puasa di Ramadhan, saat aku sendiri menyepi dan kemudian merenungi diri di sepertiga malam (ciee), aku pun kepikiran tentang saat-saat puasa di pondok dulu. Banyak hal yang memenuhi pikiranku dan aku pun pengen numpahin semua itu disini. Sekalian nostalgia gitulah walau cuma sekedar lewat tulisan.

Pertama-tama aku pengen nyeritain keseharian di pondok saat-saat bulan puasa ini.

Kita mulai dari sahur ya.
Kami mulai pergi ke dapur untuk sahur antara pukul 2 sampai paling lambat pukul setengah 4. Pukul 4nya sudah harus pergi dari asrama dan masih bisa tahajjud atau baca Qur'an di masjid sembari menunggu masuk waktu shubuh pukul setengah 5.

Selepas shubuh, kami tidak boleh kemana-mana dan harus menetap di masjid, baca al-Qur'an sampai pukul 7 pagi.

Biasanya pukul 7 itu kami sudah harus berada di kelas untuk sekolah. Tapi khusus Ramadhan, jam masuk sekolah dimundurkan ke pukul 8 pagi dan pulangnya saat azan zhuhur dikumandangkan. Hari biasa seharusnya pulang saat azan ashar, tapi dijeda dulu dengan makan siang dari habis zhuhur sampai jam 2 baru kemudian masuk lagi.

Ya semua itu agar santri tidak terlalu capek dan bisa lebih fokus ke baca al-Qur'an di masjid.

Nah, setelah ashar, kami juga nggak boleh langsung pulang ke asrama. Ada tausiyah Ramadhan dari ustadz. Biasanya sih tidak terlalu lama. Hanya setengah jam.

Selepas itu kegiatan bebas. Rata-rata cuma bersantai di asrama kemudian ke dapur pukul 5 sorenya untuk mengambil ta'jil dan makanan. Ada juga yang beli makanan tambahan lain di kantin.

Beberapa menit sebelum azan, santri sudah disuruh oleh kakak pengurus asramanya untuk duduk rapi di teras asrama sambil membawa ta'jilnya masing-masing dalam posisi sudah berwudhu.

Saat azan sudah berkumandang, santri cuma dikasih kesempatan untuk memakan ta'jilnya sampai lafadz azan 'Hayya 'alas sholah' aja. Jadi saat azan sudah selesai mereka sudah berada di masjid kemudian langsung maghrib berjamaah.

Eh, bentar-bentar, kenapa beberapa paragraf sebelum ini aku nggak make 'kami' tapi make kata 'santri' dan 'mereka'?
Hm.. ini sebenernya udah jadi rahasia umum sih. Jadi bukan berarti aku bongkar rahasia ya.
Jadi di cerita ini, aku nyeritain saat-saat aku dan temen-temen seangkatan dalam posisi pengurus atau kelas 3 aliyah.
Ya sebagaimana diketahui bersama kalo pengurus dan kelas 3 aliyah itu agak sedikit longgar peraturannya. Karena yang menegurnya cuma dari ustadz saja. Nggak mungkin kan adik kelas mau marahin kakak seniornya? Heh.

Jadi untuk kami yang pengurus atau 3 aliyah, biasanya kami tetap makan hingga azan selesai. Kemudian baru berangkat ke masjid sehingga bisa saja masbuq shalatnya. Tapi ya itu tidak semuanya juga sih. Contohnya bagian Tarbiyah atau bagian Keamanan atau Ta'mir. Mereka bahkan sudah stand by berbuka di masjid sebelum santri lain datang. Kebiasaan ini mebuat kami selalu dapat teguran dari ustadz. Sekali-kali menurut tapi tetap saja nantinya terulang lagi. (Dua paragraf ini bisa kalian abaikan saja. :D)

Sehabis pulang maghriban di masjid, kami pun melanjutkan makan di asrama hingga masuk waktu isya'.

Nah, setelah ini pun ada masalah baru muncul. Kalo di siang hari para santri menahan lapar dan kemudian ngantuk sepanjang pelajaran di kelas, malam harinya pun ceritanya tetap sama tapi kondisi perut yang berbeda.

Sudah mafhum kalo saat berbuka kita lebih mengutamakan nafsu ketimbang hanya melepas lapar dan haus. Oleh karena itu, banyak santri yang membeli makanan berlebihan di kantin dan pada akhirnya kekenyangan sebab mau tidak mau harus menghabiskan makanan-makanannya kalo tidak mau dibilang mubazir. Mau dikasih ke temen lain pun mereka juga sudah kekenyangan.

Semua itu berefek ke saat shalat berjamaah di masjid nanti.

Jadilah saat berdiri untuk shalat isya' dan tarawih para santri malas-malasan bahkan sampai tertidur berdiri. Hah.

Imam shalat tarawih dipondok biasanya sudah dibuatkan jadwal bergilirnya dari pusat dan ditempelkan di ruang ta'mir dan depan pintu masjid.

Ada cerita seru juga disini.

Biasanya di shalat tarawih ini, santri-santri mempunyai ustadz favoritnya sendiri untuk menjadi imam. Dan ustadz yang paling difavoritkan itu ustadz yang bacaanya cepat. Haha. Ini juga sudah jadi rahasia umum santri.

Panjang bacaan shalat biasanya paling sedikit setengah halaman sampai paling banyak sehalaman lebih. Tampak biasa saja sih. Tapi terasa beda ketika ustadz membacanya dengan penuh penghayatan.

Selepas tarawih berjama'ah kami duduk mendengarkan tausiyah Ramadhan lagi. Biasanya tausiyah yang setelah tarawih ini lebih seru dari tausiyah yang ba'da ashar. Tausiyah yang ini lebih terasa santai (mungkin karena perut sudah terisi) dan biasanya ustadz yang mengisi tausiyah juga memberikan beberapa game beserta hadiahnya.

Kemudian setelah itu para santri bubar --masih di masjid-- dan membentuk barisan sesuai asramanya masing-masing untuk tadarusan dan pengabsenan setelahnya. Dan ada juga beberapa santri yang dipercaya ustadz-ustadz untuk bergabung mengaji bersama mereka di ruang ta'mir yang memakai mic menara masjid.

Setelah pengabsenan, para santri pulang ke asrama masing-masing. Agendanya bebas. Jadi ada juga yang masih menetap di masjid untuk melanjutkan ngaji mereka.
Tapi lebih banyak lagi yang memilih untuk langsung pulang kemudian ngobrol dan pada akhirnya terlelap di ranjang hingga sahur esok hari.

Yups, itulah kegiatan sehari-hari kami para santri saat di pondok dulu.
_____________________________________________________________ _ _ _

Selanjutnya aku ingin nyeritain hal lain diluar kegiatan sehari-hari santri di bulan Ramadhan.

Yang pertama (ambil nafas dulu), Safari Ramadhan.
Kegiatan yang ini termasuk kegiatan yang menyenangkan bagi santri (terkhusus yang punya uang lebih). Safari Ramadhan ini yaitu kegiatan khusus di bulan Ramadhan yang diperuntukkan bagi para wali santri yang ingin mengadakan buka bersama di rumah mereka. Jadi, anak mereka diperbolehkan mengajak teman-temannya untuk buka bersama di rumahnya secara gratis, kemudian juga shalat isya' dan tarawih di masjid kampungnya. Dan setiap santri yang mengadakan safari Ramadhan, mereka juga akan ditemani oleh seorang ustadz yang akan menjadi imam di masjid kampungnya dan juga memberikan tausiyah Ramadhan.

Kegiatan safari ini hanya diperbolehkan untuk santri yang ke rumah wali santrinya tidak menghabiskan waktu perjalanan yang terlalu lama dari pondok. Atau singkatnya tidak perlu sampai menginap. Jadi selepas tarawih bisa langsung pulang lagi ke pondok tidak terlalu malam. Begitoh saudara-saudara. Heh.

Nah, santri-santri yang mengikuti safari ini hanya perlu membayar uang transportasinya saja. Jadi mereka akan sokongan untuk menyewa mobil.

Kedua, Dapet bukaan dari ustadz.
Tiap kelas memiliki gilirannya masing-masing untuk dapet jatah bukaan dari salah satu ustadz di pondok dan sudah ditentukan jadwalnya.
Misalnya, kelas 3-A tsanawiyah akan dapat bukaan dari ustadz Firman tanggal sekian.
Ini juga menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh santri dan juga ada ustadz-ustadz favoritnya. Tentu saja yang menjadi favorit itu ustadz yang memberikan makanan yang selain lezat juga banyak dan beraneka ragam. Heh.

Ketiga, Buka bersama per-komunitas masing-masing.
Di pondok kami, setiap santri memiliki komunitasnya masing-masing berdasarkan asal daerah mereka. Kami lebih sering menyebutnya dengan 'Konsulat'.
Jadi misalnya hari ke-9 Ramadhan, konsulat palembang akan mengadakan ifthar jama'i di Aula Darul Arqam. Hari ke-10nya konsulat Luar Provinsi --ini adalah konsulat untuk santri-santri yang berasal dari luar wilayah Sum-Sel-- ifthar jama'i di Villa besar belakang. Dan begitupun yang lainnya.

Kegiatan ifthar jama'i seperti ini sebenarnya sudah biasa dilaksanakan diluar Ramadhan untuk puasa-puasa sunnah. Tapi tentu saja rasanya berbeda ketika dilaksanakan saat bulan puasa khusus.

Salah satu villa di bagian belakang pondok. Anginnya sejuk lho disini
Keempat, Piket pondok dan I'tikaf (Ini khusus kelas 3 Aliyah saja)
Para santri biasanya hanya menghabiskan Ramadhan di pondok 20 hari awal saja. 10 hari terakhir mereka diberi izin untuk pulang. Tapi ini tidak berlaku untuk para santri kelas 3 Aliyah. Kami diharuskan untuk masih menetap di pondok 3 hari setelah santri lain pulang. Di 3 hari itu kami diharuskan untuk i'tikaf alias menghabiskan hari di masjid saja. Termasuk buka pun di masjid --tapi di bagian belakangnya.
Jadi kami dibagi 3 kelompok untuk 3 hari itu yang tugasnya menyiapkan makan sahur dan makanan untuk buka puasa bagi yang i'tikaf secara bergantian.

Dan juga kami memiliki jadwal tahajjud berjama'ah. Biasanya bacaan tahajjud ini lebih panjang dan lebih dihayati oleh sang imam. Hmm.

Setelah 3 hari i'tikaf di masjid, kami pun dibagi menjadi 2 kelompok untuk piket pondok. Piket pondok disini maksudnya itu orang-orang yang harus menetap di pondok dan bertugas menjaga keamanan serta kebersihan pondok dalam jangka waktu yang sudah ditentukan oleh pondok.

Dua kelompok ini dibagi berdasarkan waktu piketnya. Untuk kelompok pertama akan piket atau menetap di pondok hingga sehari sebelum lebaran tiba. Baru kemudian mereka diizinkan untuk pulang ke rumah. Biasanya kelompok pertama ini yang rumah mereka tidak terlalu jauh dari pondok.

Aku masuk yang kelompok kedua. Kelompok kedua ini pulang ke rumah setelah 3 hari i'tikaf dan kembali lagi ke pondok di hari ke-3 lebaran dan piket hingga para santri balik ke pondok lagi 10 syawalnya alias tidak pulang ke rumah lagi.

Kemudian... satu lagi.

Yang kelima, SMA lain datang ke pondok dalam kegiatan Pesantren Kilat.
Kegiatan ini biasanya datang dari SMA 1 Kayu Agung, OKI.

Mereka datang di pertengahan Ramadhan. Para santri kilat itu akan mengikuti hampir semua kegiatan santri pondok pada umumnya. Bedanya mereka memiliki menu sahur dan bukanya sendiri yang sudah disiapkan khusus. Juga saat santri pondok pergi sekolah, mereka juga belajar tapi tidak ikut belajar di kelas. Mereka akan belajar di Aula Darul Arqam. Ada ustadz khusus yang akan membimbing mereka.

Mereka datang per-angkatan. Setiap angkatan itu hanya menghabiskan waktu 2 hari saja di pondok.

Kantor Pusat Administrasi. Aula Darul Arqam di lantai 2nya
Yah, demikianlah. Itu saja sudah cukup untuk diceritakan kali ini. Terima kasih sudah membaca cerita panjang kali lebarku ini.
Ditulisnya cerita ini karena keinginan pribadi yang ingin bernostalgia (ada beberapa bagian yang bahkan aku sudah lupa dan kemudian bertanya dengan teman-teman senasib) dan juga adanya keinginan untuk sharing cerita dan pengalaman.

Oke, sampai jumpa di cerita-cerita absurdku berikutnya. Karena niatnya sih selanjutnya pengen nyeritain tentang pengalaman menjalani puasa Ramadhan di Mesir ini. :D

*Catatan kaki (Sekilas Info):
Bagi yang belum tau, aku dulu --eh, kemarin ding. Make kata dulu kayak udah lama banget-- mondoknya di Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Sakatiga, Sumatera Selatan.
Kalo mau tau lebih jauh tentang pondok kami ini, kunjungin aja ke FBnya langsung. Kalo Webnya sedang dalam perbaikan. Klik disini.

Dah, itu aja. :)


Ahmad Rofiq

Author

Seorang mahasiswa biasa di Universitas al-Azhar Kairo

0 komentar:

 
biz.