Thursday, 9 April 2015

Tanta dan Tafahna (II)

Rabu, 18 Maret 2015 -

Huahh, udara pagi tafahna seger banget.

Kami pergi keluar rumah. Ada agenda main futsal pagi ini. Rame-rame bareng temen-temen yang lain kami menuju lapangan futsal deket gerbang masuk desa. Kami diajak jalan ngelewatin sawah-sawah. Asik banget. Tembus sana-sini yang ternyata ngelewatin samping gedung Universitas Al-Azhar Tafahna. Banyak mahasiswa-mahasiswi mesir yang berjalan disamping kami sambil membawa beberapa kitab di tangan mereka.

Belum puas nikmatin perjalanan keliling-kelilingnya, tapi kami sudah sampai di lapangan. Ya mau nggak mau main dulu. Temen-temen yang cewek milih untuk nontonin aja tapi ada juga yang inisiatif main domino. Ada banyak meja disamping lapangan yang bisa dipakai.

Momen spesialnya ada setelah ini. Puas dari main bola, kami diajak lagi jalan-jalan ngelewatin sawah, sambil foto-foto pastinya. Hehe.





Masih melalui jalanan sawah, kami pun diajak ke warung yang menjual makanan khas mesir, yaitu fuul. Fuul itu sejenis kacang-kacangan, cara penyajian makanan ini sederhana aja, cuma diolah dan dihancurin lalu dikasih bumbu-bumbu yang sederhana dan khas Mesir. Nah, yang spesial dari ini, konon katanya -kata mahasiswa disini- fuul disini itu merupakan fuul terenak di Mesir. Wow, makin nggak sabar jadinya.

Akhirnya kami sampe di warung itu. Warungnya nggak jauh disamping gedung Al-Azhar tadi. Disana, kami mulai cari posisi duduk masing-masing. Makanan udah dipesen.


Nah, diatas meja itu selain ada fuul, ada juga 'isy (roti bundar khas arab), Tha'miyah (Tha’miyah itu terbuat dari kacang fuul putih dicampur dengan beberapa jenis rempah dan sayur-sayuran, lalu diblender sedang menyerupai adonan tepung. Adonan tadi sebelum digoreng, dibentuk dengan berbagai motif sesuai selera lalu dicemplung ke dalam minyak panas, seperti halnya nggoreng pergedel), ada juga tursi/salatah (acar rasa asem dari wortel, cabe, lemon, dll).

Nah, cara makan semua itu, dimulai dari 'isy kita sobek kemudian masukkan tho'miyah didalamnya terus oleskan ke fuul tadi. Sambil menggigit semua itu tadi, bisa diselingin dengan makan tursi. Nah lengkap udah kenikmatan itu. Yummi.

Tapi.. hm.. oke. Aku pengen jujur. Sebenarnya aku bukan termasuk orang yang suka makan fuul dan tursi --yang lain juga banyak yang nggak suka. Heh. Jadi ya aku hanya makan 'isy dan tho'miyahnya saja. Oh iya ada lagi namanya itu misa'ah (Sambal tomat dalemnya ada campuran terong, kentang, dll). Nah, kalo yang lain nyelupinnya ke fuul, aku nyelupinnya ke misa'ah itu. Jadi aku nggak bisa ngebuktiin apa fuul disini emang yang terlezat di Mesir apa nggak. Sesekali emang aku coba, tapi tetap aja aneh rasanya.

Selepas kenyang dari makan disana, kami lanjut jalan lagi. Kali ini kami diajak ke kebun jeruk. Waw. Ini lebih nyenengin bagiku. Karna di Indonesia dulu aku nggak pernah ngelihat-lihat kebun jeruk langsung.

Kebun jeruknya luas. Tapi sayangnya kami disana cuma bisa ngelihat aja atau intinya jangan dipetik apalagi dimakan karna itu kebun bukan punya mahasiswa sana. Tapi yah itu cukuplah untuk kami. Cukup karna bisa bernarsis ria. Hehe



Kebunnya masih basah. Kayaknya abis disiramin. Yah jadilah kami keluar dari sana dengan lumpur tebal yang menempel di alas kaki.

'Ala kulli hal. Pagi ini puas sekali. Dan sore harinya kami pamit pulang ke Kairo.

Rihlah Sa'iidah, alhamdulillah :)

Bersama Kawan-kawan DPD Tafahna

Tanta dan Tafahna

Selasa, 17 Maret 2015 -

Yoo~ akhirnya balik nulis lagi di blog ini setelah beberapa minggu nggak pernah nyentuh-nyentuh sama sekali. Eh, nggak juga ding, pernah sih nulis tapi cuma sebatas nulis judulnya doang abis tuh ditinggalin. Heh.

Hm.. sesuai judul pos ini, aku pengen nyeritain tentang pengalamanku yang untuk pertama-kalinya pergi ke desa/dusun - kalo mahasiswa disini sih lebih sering nyebutnya 'daerah' - di Mesir.

Setelah setahun lebih tinggal di ibukota Kairo yang padat dengan kebisingan kendaraan, hingar-bingar keramaian, dan lain-lain, alhamdulillah aku akhirnya bisa juga berkunjung ke desanya Mesir.

Sebagaimana maklumnya, kota dengan desa itu emang beda. Kalo di Kairo kita biasa dengan jalan-jalan gede, ngeliat bangunan-bangunan mewah, di desa ini kita jarang nemuin yang kayak gitu.

Nah, yang kali ini, aku berkesempatan untuk berkunjung ke 2 daerah yang namanya Tanta dan Tafahna. Jalan-jalan ini bukan tujuan pribadi sebenernya. Ini merupakan salah satu program pengurus Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan (KEMASS) di Mesir dan aku yang juga masuk struktur pengurus harus ikutan. Jadi jalan-jalan ini bersifat resmi dengan membawa nama sebagai pengurus KEMASS.

Tujuan pertama kami ke Tanta terlebih dahulu. Mulai start dari Rumah Limas Mesir di Kairo, kami pun menaiki bis ke stasiun Ramsis. Dari Ramsis kami membeli tiket ke daerah Tanta. kurang lebih dua jam di perjalanan, kami pun sampai juga di stasiun sana.

Kesan pertama ketika keluar dari stasiun, aku ngerasa bahwa suasananya nggak jauh beda dengan daerah di Kairo. Sedikit kecewa sih pada awalnya, karena di bayanganku itu kami akan langsung disambut dengan suasana desa yang biasanya serba kehijauan sawah dan pepohonan.

Dari stasiun Tanta kami naik bis menuju Universitas Al-Azhar Tanta. Jadi, temen-temen, Al-Azhar itu nggak cuma ada di Kairo, tapi juga ada di berbagai daerah lainnya. Tapi ya tetep aja Al-Azhar Kairo lebih masyhur dan -katanya- ijazahnya agak beda.

Sampai di depan gerbang Al-Azhar, kami pun disambut hangat oleh ketua Dewan Pengurus Daerah - Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (DPD-PPMI) Tanta. Kami mau diajak untuk melihat-lihat ke dalam Al-Azhar mereka. Tapi sayang yang diperbolehkan masuk cuma yang cowok aja dan harus bawa kartu mahasiswa. Kami pun sepakat untuk nggak jadi masuk karna hanya sebagian kecil yang memenuhi syarat.

Jadilah kami langsung saja menuju ke rumah/kantor DPD-PPMI Tanta yang lokasinya nggak jauh dari Al-Azhar.

Di rumah itu kami istirahat sejenak, ya selonjorin kaki, ngelepasin tas, shalat zhuhur dan lain-lain. Kemudian satu-persatu temen-temen DPD pun dateng dan nyalamin kami. Dan juga, biar nggak cuma-cuma kedatengan kami disana, kami pun mulai acara semi-resmi untuk perkenalan satu sama lain karena kami yang pengurus KEMASS tahun ini rata-rata baru dateng satu tahun kemarin.

Setelah kenalan, kami juga dapat mendengar pencerahan dari Ust. Fathin Masyhud, Lc., MHI. yang merupakan pengarang buku "Rahasia Sukses 3 Hafidz Qur'an Cilik mengguncang Dunia". Ya memang sudah masyhur di Mesir bahwa daerah Tanta adalah salah-satu daerah yang banyak menghasilkan para Huffadz cilik.

Sesudah semua itu, kami pun melanjutkan ngobrol-ngobrol santai sambil makan. Yummy.


Kami di sana hanya beberapa jam aja karena sorenya nanti kami akan ngelanjutin jalan ke daerah Tafahna. Sebelum pamit pulang kami pun foto bareng terlebih dahulu.



Keluar dari rumah, kami berkunjung terlebih dahulu ke salah satu masjid besar di Tanta untuk shalat ashar dan ziarah, di dalamnya ada makam Syeikh Imam Baidhawi.

Di depan makam Syeikh Imam Baidhawi
Di depan masjid
Terus kami lanjut, masuk ke maktabah -nggak jauh dari sana- yang katanya menjual kitab-kitab bagus yang nggak ada di Kairo. Aku nggak ikutan beli -nggak tau sih kalo bakal mampir ke maktabah ini jadi nggak bawa duit. *nangis di pojokan*

Oke, setelah mampir di kedua tempat tersebut, kami pun ngelanjutin perjalanan ke daerah Tafahna. Huft, ngambil napas dulu.

Dari Tanta, kurang lebih satu jam kami sampe di Tafahna. Nah, di Tafahna inilah nanti kami bakal banyak ngabisin waktu untuk rihlah kali ini.

Ngeksis bentar di stasiun
Turun dari kereta, kami disambut oleh pengurus DPD-PPMI Tafahna yang juga merupakan senior KEMASS. Kami diantar ke rumah/kantor mereka. Walau hari udah malem, kami tetep disambut dengan hangat disana. Orangnya ramah-ramah. Kami pun mulai ngenalin diri masing-masing kemudian ngobrol-ngobrol santai dan akhirnya makan bareng lagi. Asik dah.

Sesudah itu, ada yang lanjut ngobrol-ngobrol, ada juga yang pengen istirahat di kamar yang udah disiapin temen-temen DPD. Aku milih keluar buat ngelihat suasana malam di Tafahna bareng temen-temen yang juga belum mau langsung istirahat. Sayang kalau dilewatin soalnya besok malem kami udah nggak nginep disini lagi.

Jalanannya sepi, dingin.

Kami jalan ke gerbang depan desa yang disana masih ada orang-orang desa lagi asik main futsal, ada juga yang rame nonton tanding bola champions di TV samping lapangan itu. Hah, aku sebentar aja disana. Udara makin dingin. Aku pun balik ke rumah. Temen-temen lain ada yang ikut balik ada juga yang tetep tinggal buat main billiard.

Sampai di rumah aku nggak langsung tiduran di kamar. Pertandingan championa malam ini nggak boleh dilewatin. Ada Arsenal melawan AS Monaco dan  Atletico Madrid versus Bayern Leverkusen. Selesai nonton pertandingan yang akhirnya dimenangi AS Monaco dan Atletico Madrid itu aku pun ke kamar. Capek. Sebelum tidur nggak lupa sholat isya dulu sekaligus jama' ta'khir maghrib.

Dan tak lama kemudian.. zZzZ... *Aku udah masuk ke dunia mimpi*

Besoknya, kami ada agenda lain yang nggak kalah seru. Tapi lanjut bacanya di pos setelah ini aja ya. Soalnya disini udah kepanjangan ceritanya. Hehe.

Jangan kemana-mana, lanjutin bacanya disini.

 
biz.